<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>negeri di atas awan &#8211; Mohammad Reza Latief</title>
	<atom:link href="http://mohammadrezalatief.com/tag/negeri-di-atas-awan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mohammadrezalatief.com</link>
	<description>Solo Traveler</description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Aug 2026 16:37:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.9</generator>

<image>
	<url>http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2020/09/cropped-cropped-logow-1-32x32.png</url>
	<title>negeri di atas awan &#8211; Mohammad Reza Latief</title>
	<link>http://mohammadrezalatief.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Solo Traveling ke Dieng: Menikmati Negeri di Atas Awan Selama 3 Hari 2 Malam</title>
		<link>http://mohammadrezalatief.com/solo-traveling-ke-dieng-menikmati-negeri-di-atas-awan-selama-3-hari-2-malam/</link>
					<comments>http://mohammadrezalatief.com/solo-traveling-ke-dieng-menikmati-negeri-di-atas-awan-selama-3-hari-2-malam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Mohammadrezalatief]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2026 16:32:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dieng]]></category>
		<category><![CDATA[negeri di atas awan]]></category>
		<category><![CDATA[solo traveling]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mohammadrezalatief.com/?p=2325</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dieng menjadi lokasi kedua dalam perjalanan solo traveling yang sedang aku jalani. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan ke beberapa tempat, kali ini aku memilih menghabiskan waktu selama 3 hari 2 malam di Dieng untuk mengeksplorasi berbagai destinasi, mencoba kuliner, menikmati suasana pedesaan, dan berinteraksi dengan warga lokal. Dieng merupakan kawasan dataran<a class="moretag" href="http://mohammadrezalatief.com/solo-traveling-ke-dieng-menikmati-negeri-di-atas-awan-selama-3-hari-2-malam/"> Read more&#8230;</a></p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" href="http://mohammadrezalatief.com/solo-traveling-ke-dieng-menikmati-negeri-di-atas-awan-selama-3-hari-2-malam/">Solo Traveling ke Dieng: Menikmati Negeri di Atas Awan Selama 3 Hari 2 Malam</a> pertama kali tampil pada <a rel="nofollow" href="http://mohammadrezalatief.com">Mohammad Reza Latief</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="576" src="http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723055123_0242_D-1-1024x576.jpg" alt="Skyview Dieng" class="wp-image-2329" srcset="http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723055123_0242_D-1-1024x576.jpg 1024w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723055123_0242_D-1-300x169.jpg 300w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723055123_0242_D-1-768x432.jpg 768w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723055123_0242_D-1-1536x864.jpg 1536w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723055123_0242_D-1-2048x1152.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Skyview Dieng</em></figcaption></figure>



<p>Dieng menjadi lokasi kedua dalam perjalanan solo traveling yang sedang aku jalani. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan ke beberapa tempat, kali ini aku memilih menghabiskan waktu selama <strong><a href="https://youtu.be/KkkJS3kz78E?si=aJF0xL8JMyQ7nkpS" data-type="link" data-id="https://youtu.be/KkkJS3kz78E?si=aJF0xL8JMyQ7nkpS">3 hari 2 malam di Dieng</a></strong> untuk mengeksplorasi berbagai destinasi, mencoba kuliner, menikmati suasana pedesaan, dan berinteraksi dengan warga lokal.</p>



<p>Dieng merupakan kawasan dataran tinggi dengan udara yang dingin dan suasana pedesaan yang indah. Kawasannya mencakup dua wilayah kabupaten, yaitu <strong>Wonosobo dan Banjarnegara</strong>.</p>



<p>Dengan ketinggian sekitar <strong>2.000–2.590 mdpl</strong>, suhu di Dieng dapat mencapai -6 derajat atau bahkan lebih rendah.</p>



<p>Bagi aku, perjalanan ke Dieng bukan sekadar perjalanan menuju tempat baru. Ada cerita yang cukup panjang di balik keinginan untuk datang ke tempat ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari Cerita Teman Kuliah hingga Akhirnya Sampai di Dieng</strong></h2>



<p>Kalau mengingat kembali kapan pertama kali aku mengetahui Dieng, mungkin semuanya bermula saat masih kuliah.</p>



<p>Salah satu temanku cukup sering membicarakan Dieng. Dari situlah muncul rasa penasaran untuk mencari tahu lebih banyak tentang tempat ini. Entah kenapa, sejak saat itu muncul juga keinginan bahwa suatu hari nanti aku ingin berkunjung langsung ke Dieng.</p>



<p>Namun, Dieng bukanlah tempat yang dekat dari tempat tinggalku. Aku perlu menyeberangi lautan luas untuk bisa sampai ke tempat ini.</p>



<p>Karena itu, perjalanan menuju Dieng dulu hanya sebatas keinginan. Sampai akhirnya kesempatan itu benar-benar datang.</p>



<p>Sekarang, berada di Dieng bukan lagi sesuatu yang mustahil.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Perjalanan dari Wonosobo Menuju Dieng</strong></h2>



<p>Aku berangkat sendirian dari <strong>Terminal Mendolo, Wonosobo</strong>.</p>



<p>Karena masih akan kembali ke Terminal Mendolo untuk keberangkatan berikutnya, aku memutuskan untuk menyewa motor di sekitar terminal. Harga sewanya sekitar <strong>Rp170 ribu per hari</strong>.</p>



<p>Keputusan menggunakan motor ini aku ambil agar perjalanan menjadi lebih efisien, terutama dari sisi waktu dan biaya untuk perjalanan pulang-pergi.</p>



<p>Perjalanan dari Wonosobo menuju Dieng menjadi salah satu bagian yang cukup aku nikmati.</p>



<p>Sepanjang perjalanan, aku disuguhi pemandangan perbukitan dan perkebunan yang hijau. Suasana seperti ini membuat perjalanan terasa tenang dan damai.</p>



<p>Bahkan, suasana pedesaan seperti ini sebenarnya sudah sering aku bayangkan sejak kecil.</p>



<p>Sesampainya di Dieng, aku memilih menginap di hotel yang lokasinya cukup dekat dengan beberapa destinasi utama. Pilihan ini membuatku lebih mudah untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya selama berada di Dieng.</p>



<h1 class="wp-block-heading"><strong>Hari Pertama di Dieng: Menikmati Suasana Desa</strong></h1>



<p>Di hari pertama, aku tidak terlalu banyak menjelajahi Dieng.</p>



<p>Aku memilih mengunjungi beberapa tempat yang lokasinya cukup dekat sekaligus menikmati suasana desa tanpa harus terburu-buru mengejar banyak destinasi.</p>



<p>Hari pertama juga aku gunakan untuk memetakan beberapa tempat yang ingin dikunjungi pada hari berikutnya.</p>



<p>Dengan begitu, aku bisa menentukan perjalanan berikutnya sambil tetap memiliki waktu untuk beristirahat dan mengumpulkan energi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723065905_0269_D-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-2332" srcset="http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723065905_0269_D-1024x576.jpg 1024w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723065905_0269_D-300x169.jpg 300w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723065905_0269_D-768x432.jpg 768w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723065905_0269_D-1536x864.jpg 1536w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723065905_0269_D-2048x1152.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h1 class="wp-block-heading"><strong>Hari Kedua: Sunrise, Candi Arjuna, dan Kawah Sikidang</strong></h1>



<p>Hari kedua dimulai dengan suhu udara sekitar <strong>9 derajat</strong>.</p>



<p>Buat aku, suhu tersebut sudah terasa sangat dingin. Sebelum memulai perjalanan, aku sempat mampir ke minimarket untuk membeli roti sebagai sarapan.</p>



<p>Ada satu hal yang cukup menarik perhatianku. Beberapa minimarket di Dieng justru terasa hangat. Aku tidak tahu apakah memang menggunakan penghangat atau karena bangunannya dibuat khusus untuk menghadapi kondisi udara yang dingin.</p>



<p>Setelah sarapan, aku menuju destinasi pertama hari itu, yaitu <strong>Skyview Dieng</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menikmati Sunrise di Skyview Dieng</strong></h2>



<p>Tujuan pertama hari kedua adalah melihat sunrise di kawasan Skyview Dieng.</p>



<p>Udara di tempat ini terasa dingin dan sejuk, tetapi pemandangan langit yang terlihat membuat perjalanan pagi itu terasa sepadan.</p>



<p>Jika beruntung, pengunjung dapat menyaksikan kumpulan awan dan kabut yang menggumpal seperti lautan putih sejauh mata memandang.</p>



<p>Aku sendiri sudah lupa kapan terakhir kali menikmati sunrise seperti ini.</p>



<p>Sejak memutuskan untuk tidak bekerja lagi, rasanya ada bagian dari diriku yang kembali membuka ruang tentang mimpi lama untuk berkeliling menikmati alam dan panorama Indonesia.</p>



<p>Perjalanan seperti ini membuat keinginan tersebut terasa semakin nyata.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Candi Arjuna yang Belum Dibuka</strong></h2>



<p>Setelah menikmati sunrise, aku melanjutkan perjalanan menuju <strong>Candi Arjuna</strong>.</p>



<p>Area sebelum memasuki pintu masuk candi ternyata juga memiliki pemandangan yang menarik. Pepohonan cemara dan pinus tumbuh di sisi kiri dan kanan jalan sehingga suasananya terasa seperti berada di pedesaan Swiss.</p>



<p>Tanaman bunga hias yang berada di sekitar kawasan tersebut juga memberikan kesan yang indah dan asri.</p>



<p>Sayangnya, aku datang terlalu cepat karena pintu masuk Candi Arjuna masih belum dibuka.</p>



<p>Daripada menunggu, aku memutuskan untuk mencari tempat lain terlebih dahulu.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bertemu Peternak Domba Batur di Dieng</strong></h2>



<p>Aku kemudian menuju sebuah peternakan <strong>Domba Batur</strong> milik warga lokal.</p>



<p>Di sana aku mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan <strong>Pak Ziqi</strong>, salah satu peternak Domba Batur di Dieng.</p>



<p>Pak Ziqi bercerita bahwa dirinya memulai peternakan dari dua ekor domba. Dari awal yang hanya memiliki dua ekor, jumlah domba yang dipeliharanya sekarang sudah sebanyak yang aku lihat saat berkunjung.</p>



<p>Pak Ziqi juga cukup terbuka untuk bercerita mengenai domba yang diternakkannya.</p>



<p>Mulai dari jenis dan perawatannya, pakan yang diberikan, hingga nilai jual Domba Batur yang cukup tinggi.</p>



<p>Bagi aku, interaksi dengan domba dan kesempatan untuk berbincang langsung dengan warga lokal menjadi bagian lain dari pengalaman selama berada di Desa Dieng.</p>



<p>Perjalanan ternyata tidak selalu tentang mengunjungi destinasi wisata. Bertemu dengan orang lokal dan melihat aktivitas mereka juga menjadi bagian dari pengalaman ketika berkunjung ke suatu tempat.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Membatalkan Rencana ke Pemandian Air Panas</strong></h2>



<p>Setelah itu, aku kembali melanjutkan perjalanan untuk menyusuri bagian lain dari Dieng.</p>



<p>Sebenarnya ada rencana untuk mengunjungi area pemandian air panas. Namun, saat itu kondisi sudah cukup siang dan aku juga tidak membawa pakaian ganti.</p>



<p>Aku mempertimbangkan kondisi pakaian setelah digunakan untuk berendam. Aku khawatir tidak memiliki kesempatan untuk mencuci pakaian tersebut, sementara setelah dari Dieng aku masih akan melanjutkan perjalanan ke daerah berikutnya.</p>



<p>Membawa pakaian dalam kondisi basah tentu bukan pilihan yang ideal.</p>



<p>Akhirnya, aku hanya mampir untuk mengecek tempat tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan perkebunan yang berada sedikit lebih tinggi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dingin Sepanjang Hari di Dieng</strong></h2>



<p>Salah satu hal menarik yang aku rasakan selama berada di Dieng adalah suhu udaranya yang tetap dingin sepanjang hari.</p>



<p>Bahkan ketika siang hari, saat seharusnya matahari terasa terik dan panas, udara di Dieng tetap terasa dingin.</p>



<p>Aku masih harus menggunakan jaket karena memang sedingin itu.</p>



<p>Buat aku, kondisi seperti ini menjadi salah satu pengalaman yang cukup berbeda dibandingkan tempat-tempat yang biasa aku kunjungi.</p>



<h1 class="wp-block-heading"><strong>Kawah Sikidang</strong></h1>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723124811_0243_D-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-2330" srcset="http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723124811_0243_D-1024x576.jpg 1024w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723124811_0243_D-300x169.jpg 300w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723124811_0243_D-768x432.jpg 768w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723124811_0243_D-1536x864.jpg 1536w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260723124811_0243_D-2048x1152.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Destinasi berikutnya adalah <strong>Kawah Sikidang</strong>.</p>



<p>Nama tempat ini diambil dari bahasa Jawa kuno, yaitu <em>kidang</em> yang berarti kijang. Penamaan tersebut berkaitan dengan titik-titik semburan lumpur panas dan celah gas di kawasan kawah yang sering berpindah-pindah atau seolah melompat dari satu titik ke titik lainnya dalam radius area seluas 4 hektare.</p>



<p>Di kawasan ini juga telah dibuat jembatan kayu dengan panjang mencapai <strong>1.150 meter</strong>.</p>



<p>Jembatan tersebut bukan hanya menjadi bagian dari kawasan wisata, tetapi juga membantu pengunjung berjalan dan mengelilingi area kawah.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jalur Keluar Kawah Sikidang yang Seperti Labirin</strong></h2>



<p>Salah satu hal yang paling aku ingat dari Kawah Sikidang justru terjadi ketika aku sudah selesai berkeliling dan ingin keluar.</p>



<p>Untuk menuju pintu keluar, pengunjung harus melewati jalur yang terasa seperti labirin karena dibuat memutar.</p>



<p>Jalur tersebut membuat pengunjung melewati area para pedagang lokal yang menjual berbagai makanan, jajanan, hingga suvenir.</p>



<p>Menurut yang aku lihat, jalur ini juga menjadi salah satu cara untuk memberikan dukungan kepada UMKM lokal karena pengunjung akan melewati area perdagangan tersebut sebelum keluar.</p>



<p>Sebenarnya ada jalur lain yang bisa digunakan untuk keluar lebih cepat.</p>



<p>Namun, aku tidak mengetahuinya dan tidak ada juga yang memberitahuku.</p>



<p>Hehe.</p>



<p>Tapi tidak apa-apa. Setidaknya hal tersebut menjadi bagian dari pengalaman selama berada di Dieng.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Akhirnya Bisa Masuk Candi Arjuna</strong></h2>



<p>Setelah pagi harinya gagal masuk karena pintu belum dibuka, akhirnya aku bisa mengunjungi Candi Arjuna setelah tempat tersebut dibuka.</p>



<p>Satu hal yang perlu diketahui, tiket masuk Candi Arjuna sudah sepaket dengan Kawah Sikidang.</p>



<p>Jadi, ketika membeli tiket di Candi Arjuna atau Kawah Sikidang, tiket tersebut sudah mencakup kedua destinasi tersebut.</p>



<p>Aku sendiri tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di Candi Arjuna.</p>



<p>Aku hanya bersantai, menikmati pemandangan candi dan kawasan di sekitarnya, kemudian memutuskan kembali ke penginapan untuk beristirahat.</p>



<p>Malam harinya, aku makan <strong>Mie Ongklok</strong> sebelum kembali beristirahat.</p>



<h1 class="wp-block-heading"><strong>Hari Ketiga: Bukit Scooter, Kebun Teh Tambi, dan Telaga Menjer</strong></h1>



<p>Hari ketiga merupakan hari terakhirku di Dieng.</p>



<p>Ada sedikit rasa sedih karena aku sudah harus bersiap meninggalkan tempat ini dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya.</p>



<p>Selain itu, hari tersebut merupakan hari Jumat sehingga aku juga perlu mengatur waktu agar bisa melaksanakan sholat.</p>



<p>Sebelum meninggalkan Dieng, ada tiga lokasi yang ingin aku kunjungi, yaitu <strong>Bukit Scooter, Kebun Teh Tambi, dan Telaga Menjer</strong>.</p>



<p>Ketiga tempat tersebut juga menjadi beberapa spot yang aku rekomendasikan ketika berkunjung ke Dieng.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bukit Scooter</strong></h2>



<p>Tempat pertama yang aku kunjungi pada hari terakhir adalah <strong>Bukit Scooter</strong>.</p>



<p>Tempat ini menjadi salah satu spot bagi pengunjung yang ingin camping atau sekadar menikmati sunrise.</p>



<p>Di sini juga terdapat coffee shop sehingga pengunjung bisa bersantai sambil menikmati kopi panas.</p>



<p>Kabut yang cukup tebal masih bisa ditemui di kawasan Bukit Scooter dan mengelilingi area bukit.</p>



<p>Selain pemandangan pada pagi hari, tempat ini juga menjadi salah satu spot untuk melihat city view.</p>



<p>Di hari terakhir ini, aku merasakan dua hal sekaligus: senang karena sudah mendapatkan banyak pengalaman selama berada di Dieng, tetapi juga sedih karena harus kembali berpindah ke tempat berikutnya.</p>



<p>Di sini aku seolah mendapatkan keyakinan bahwa keputusan yang kuambil merupakan sesuatu yang tepat dan tidak akan pernah aku sesali.</p>



<p>Aku sadar bahwa ada banyak risiko dari keputusan tersebut.</p>



<p>Namun, apa pun pilihan yang diambil, tetap akan ada konsekuensinya.</p>



<p>Dan apa pun konsekuensinya, aku siap menghadapinya dengan hati yang lapang.</p>



<h1 class="wp-block-heading"><strong>Kebun Teh Tambi</strong></h1>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260724080956_0271_D-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-2331" srcset="http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260724080956_0271_D-1024x576.jpg 1024w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260724080956_0271_D-300x169.jpg 300w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260724080956_0271_D-768x432.jpg 768w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260724080956_0271_D-1536x864.jpg 1536w, http://mohammadrezalatief.com/wp-content/uploads/2026/08/DJI_20260724080956_0271_D-2048x1152.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Setelah dari Bukit Scooter, aku melanjutkan perjalanan menuju <strong>Kebun Teh Tambi</strong>.</p>



<p>Sebenarnya tempat ini ingin aku kunjungi pada hari pertama. Namun, karena lokasinya lebih dekat dengan arah perjalanan pulang, aku memutuskan untuk mengunjunginya pada hari terakhir sebelum kembali ke Terminal Mendolo.</p>



<p>Sepanjang mata memandang, kawasan Kebun Teh Tambi dipenuhi hijaunya daun teh.</p>



<p>Kawasan perkebunan yang luas tersebut semakin menarik dengan pemandangan <strong>Gunung Sindoro</strong> yang terlihat dari area perkebunan.</p>



<p>Pemandangan tersebut memberikan kesan yang magical dan begitu asri.</p>



<h1 class="wp-block-heading"><strong>Telaga Menjer</strong></h1>



<p>Sekitar 10–12 menit dari Kebun Teh Tambi, aku melipir sedikit menuju area <strong>Telaga Menjer</strong>.</p>



<p>Jika sebelumnya perjalanan lebih banyak didominasi oleh perbukitan dan sawah, perjalanan terakhirku di Dieng justru ditutup dengan panorama telaga yang luas.</p>



<p>Pemandangan Telaga Menjer memberikan pengalaman yang berbeda selama berada di Dieng sekaligus menjadi penutup perjalanan sebelum aku melanjutkan perjalanan ke daerah berikutnya.</p>



<h1 class="wp-block-heading"><strong>3 Hari 2 Malam di Dieng dan Sebuah Keinginan yang Akhirnya Terwujud</strong></h1>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Pertama Kali Solo Traveling di Dieng!" width="750" height="422" src="https://www.youtube.com/embed/KkkJS3kz78E?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selama 3 hari 2 malam di Dieng, perjalanan ini kembali mengingatkanku tentang satu hal: keinginan yang lebih besar dari kemampuan akan selalu menang.</p>



<p>Dulu, dunia seperti ini hanya terdengar dari cerita orang lain.</p>



<p>Tempat-tempat tersebut hanya tersimpan di kepala dan berada dalam bayangan serta angan-angan, tanpa tahu apakah suatu hari nanti akan ada kesempatan untuk melihatnya secara langsung.</p>



<p>Sekarang, semuanya benar-benar berwujud.</p>



<p>Aku akhirnya bisa datang ke tempat yang dulu hanya aku kenal dari cerita.</p>



<p>Dieng yang dulu hanya menjadi salah satu tempat yang ingin aku kunjungi, akhirnya menjadi bagian dari perjalanan solo traveling-ku.</p>



<p>Sampai jumpa kembali, desa impian.</p>



<p>Semoga suatu saat nanti aku bisa kembali tiba di sini.</p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" href="http://mohammadrezalatief.com/solo-traveling-ke-dieng-menikmati-negeri-di-atas-awan-selama-3-hari-2-malam/">Solo Traveling ke Dieng: Menikmati Negeri di Atas Awan Selama 3 Hari 2 Malam</a> pertama kali tampil pada <a rel="nofollow" href="http://mohammadrezalatief.com">Mohammad Reza Latief</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://mohammadrezalatief.com/solo-traveling-ke-dieng-menikmati-negeri-di-atas-awan-selama-3-hari-2-malam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
