Fajar berganti petang menghapus perih yang merintih
Langit menutup tirai pertanda pedagang jalanan pulang dan kembali
Bunyi-bunyi mahluk senja bergantian riang bernyanyi.

Menemui rumah-rumah kayu beratap rumbia berlantai keras tanah

Sudah diseduh pahit kopi tanpa gula pada gelas kaca ayah

Saksi perjuangan akan beratnya hidup untuk selembar rupiah

Bukti nyata dedikasi seorang manusia mencari nafkah.

Semenjak dahulu sudah menemani resah dan duka

Ketika biaya bersalin masih tak murah, baju sekolah seharga seminggu makan beras di rumah

Sekedar membanting tulang pun tak cukup rasanya
mungkin masih juga kurang daging dan darahnya.

Gelas kaca ayah yang kosong bergelantungan bidadari-bidadari

Terisak menunggu sang pemilik untuk datang lagi

Sayang pemiliknya yang bahagia telah jauh pergi

Mengiris kenang pada kotornya cucian dan sunyinya hati.

Gelas kaca ayah yang akan selamanya kosong

Sedang yang punya sedang dijamu dewi-dewi surgawi di taman abadi

Tak perlu lagi lelah berkeluh terik dan mendungnya hari

Menanti kami untuk berkumpul kembali.

Kategori: Puisi

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *