Menemui rumah-rumah kayu beratap rumbia berlantai keras tanah
Sudah diseduh pahit kopi tanpa gula pada gelas kaca ayah
Saksi perjuangan akan beratnya hidup untuk selembar rupiah
Bukti nyata dedikasi seorang manusia mencari nafkah.
Semenjak dahulu sudah menemani resah dan duka
Ketika biaya bersalin masih tak murah, baju sekolah seharga seminggu makan beras di rumah
Sekedar membanting tulang pun tak cukup rasanya
mungkin masih juga kurang daging dan darahnya.
Gelas kaca ayah yang kosong bergelantungan bidadari-bidadari
Terisak menunggu sang pemilik untuk datang lagi
Sayang pemiliknya yang bahagia telah jauh pergi
Mengiris kenang pada kotornya cucian dan sunyinya hati.
Gelas kaca ayah yang akan selamanya kosong
Sedang yang punya sedang dijamu dewi-dewi surgawi di taman abadi
Tak perlu lagi lelah berkeluh terik dan mendungnya hari
Menanti kami untuk berkumpul kembali.
0 Komentar