Foto oleh Tim Gouw dari Pexels

“To be idle and to be poor have always been reproaches, and therefore every man endeavors with his utmost care to hide his poverty from others, and his idleness from himself.” — Samuel Johnson

(Menganggur dan miskin selalu merupakan celaan, dan oleh karena itu setiap orang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyembunyikan kemiskinannya dari orang lain, dan ketiadaan kegiatannya dari dirinya sendiri.)

Semenjak pandemi, banyak diantara kita yang pada akhirnya harus menghadapi berbagai masalah yang cukup sulit dan memberatkan. Mulai dari masalah keuangan, pekerjaan, keluarga, pendidikan, hingga kesehatan.

Rasanya hari-hari di Tahun ini agak lebih berat untuk dijalani yah!

Saya sendiri pun demikian tidak lepas dari ujian ini. Sudah lebih dari 3 bulan tidak punya penghasilan setelah putus kontrak kerja, dan akhirnya harus kembali pulang ke Rumah dan menjadi tanggungan orang tua diusia yang sudah segini.

Walau masih nganggur, bukan artinya saya menginginkan hal tersebut.

Karena sejujurnya saya merasa terbebani dengan hal ini, tapi di satu sisi saya tetap harus bersyukur dan menerima bagaimana pun kondisinya. Saya nggak perlu takut dan khawatir karena ada hal lain dari pengangguran yang bisa kita maknai lebih positif.

#Nganggur itu pilihan

Menjadi pengangguran bukan berarti buruk, kadang seseorang terpaksa harus berada pada posisi ini karena berbagai faktor dan alasan yang nggak bisa dipandang sebelah mata.

Yang pada akhirnya membuat kita untuk memilih, “Ok, nggak apa-apa saat ini gua nganggur!”

Mungkin sudah banyak contoh bisa kita lihat orang-orang di sekitar yang pada akhirnya menunda untuk bekerja karena menunggu hal yang lain yang lebih diprioritaskan daripada sekedar melamar pekerjaan seadanya.

Jadi kalau kita melihat seseorang yang jadi pengangguran, bukan berarti dia nggak bisa dapetin pekerjaan. Tapi, bisa jadi karena memang dia sendiri yang memutuskan untuk belum berkerja, dengan berbagai pertimbangan yang ia punya.

Kita nggak punya hak buat nge-judge ataupun memberikan penilaian negatif terhadap orang tersebut.

Saya pribadi untuk sekarang ini harus tetap di Rumah karena merawat ibu yang terkena penyakit Diabetes melitus di kakinya. Luka parah yang menyebabkan ibu nggak bisa ngapa-ngapain dan setiap malamnya merintih kesakitan akibat pembuluh darah yang sudah rusak.

Setiap hari saya harus mengurangi waktu tidur dan membantu ayah mengurusi pekerjaan rumah, yang dulunya bisa ibu lakukan sendiri.

Dan ada banyak orang diluar sana yang mungkin memiliki masalah yang sama atau bahkan lebih berat lagi.

#Pengangguran yang Visioner Atau Orang sibuk tanpa Tujuan?

So, kalau di suruh pilih menjadi pengangguran yang punya mimpi atau punya pekerjaan tapi nggak ada visi, kamu pilih mana?

Kalau saya,

Mending saya pilih jadi pengangguran. Banyak kok saat ini orang-orang yang melakukan banyak hal tapi belum tahu dengan tujuan atau goals apa yang ingin dia raih. Yang pada akhirnya waktu yang dimiliki habis terbuang dan hasilnya pun nihil.

Sebagai contoh, saya punya seorang teman yang sangat sibuk melakukan hal-hal yang sebenarnya nggak linier dengan apa yang dia punya dan inginkan. Setelah saya bertanya tentang tujuannya dia melakukan hal tersebut, dia sendiri nggak bisa jawab. Lah!

Banyak kerjaan tapi tidak bisa menentukan tujuan dari apa yang kamu lakukan selama ini, untuk apa? Cuman agar kelihatan punya kerjaan aja gitu!

Berbeda dengan orang-orang yang kelihatannya nggak punya pekerjaan tapi sebenarnya udah punya banyak rencana dan persiapan buat menggapai sesuatu yang dia inginkan.

Orang-orang yang seperti ini bukannya nggak produktif,  melainkan hanya persoalan waktu saja dan momentum yang tepat agar dia bisa melebarkan sayapnya dan berkembang menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

Kalau pengangguran hanya masalah waktu, sedang yang sok sibuk menghabiskan waktu.

“In the long run, the right answer to unemployment is to create more jobs.” — George W. Bush

(Dalam jangka panjang, jawaban yang tepat untuk pengangguran adalah menciptakan lebih banyak pekerjaan)

Saya bersyukur saat ini walaupun dalam keadaan tanpa penghasilan, nggak punya pekerjaan, pusing mikirin jodoh *eh*, dan sering terbebani. Itu nggak menjadikan saya kehilangan arah dan target apa yang harus bisa saya capai.

Pada dasarnya saat ini saya lebih memiliki banyak waktu untuk me-refresh kembali pikiran saya dari berbagai persoalan yang memang nggak seharusnya saya pikirkan. Saya lebih punya waktu untuk merawat ibu saya dan berbakti pada orang tua. Sesuatu yang selama ini sering terabaikan.

Saya nggak mau pada akhirnya pekerjaan dan banyak uang yang saya punya, sebaliknya menjauhkan saya dari orang-orang yang saya sayangi.

Hal-hal yang seharusnya saya lakukan juga bisa lebih terlihat dan memfokuskan semuanya ke sana. Sesuatu yang dulu yang tidak pernah saya miliki, kini berubah menjadi kebiasaan baru yang harus saya kembangkan dan perjuangkan.

Masalah tentang masa depan saya hanyalah tentang waktu dan momentum yang tepat. Mungkin hari ini tuhan memberikan saya kesempatan untuk membuat jeda dikehidupan saya agar bisa memaksimalkan kemampuan saya dan kembali melihat kedalam diri tentang sesuatu yang akan diberikan kepada saya nantinya.

Kategori: Opini

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *