
Selamat datang di blog saya dan dalam artkel ini Kamu akan membaca tentang pengalaman merantau ke Jakarta. Bukan merantau dengan penuh kepastian dan keamanan, namun…
…sebaliknya banyak kekhawatiran dan keterbatasan. jelas saja hanya dengan uang Rp2.000.000, Saya nekat berangkat dan pergi meninggalkan segala kenyamanan saya di kota Manado
“Serius,,,”
“Hanya dengan 2 juta doang,,,”
“Gimana bisa bertahan hidup, di Jakarta?”
Ehtahlah, dalam pikiran saya hanya kepasrahan dan yakin saja lah.
Manusia hidup bukan cuma mengandal akal pikirannya. Terkadang yang membawa kita pada impian adalah keyakinan yang kuat dan jangan pernah ragu.
Begitu juga yang dikhawatirkan oleh keluarga dan teman-teman saya! Tapi tekad sudah bulat dan tidak ada yang bisa menghalangi keinginan pergi merantau ke jakarta.
Siapa sangkah hanya dari bayangan sepintas di kepala ketika masih di bangku SMP dan akhirnya bisa terwujud juga saya merantau ke Jakarta
Emang dari dulu saya itu entah kenapa pengen saja merantau ke Jakarta, walaupun keadaan saat itu memang nggak memungkinkan. Namun karena rasa penasaran dan ingin menantang diri sendiri akhirnya saya bisa membuktikan dan mampu bertahan.
Berawal pada akhir tahun 2019 dengan bermodalkan sisa gaji dari perusahaan. Saya memantapkan untuk meminta izin pada orang tua dan merantau ke Ibu Kota Negara Indonesia itu.
Saya sadar betul keadaan saya dan bagaimana susahnya hidup di Jakarta, tapi saya tidak putus asa dan terus melangkahkan kaki.
Baca Juga : Bukan Uang! Kamu Dilarang Merantau Sebelum Punya 7 Hal Ini
Table of Contents
Merantau Dengan Modal Yang Minim
Saat itu uang yang saya miliki sekitar 3-4 juta saat dari kota Manado. Berbagai narasi pesimisme pun muncul dari banyak orang, namun hal itu tidak serta merta mengubah pendirian saya. Saya sudah bertekad bulat untuk pergi merantau ke Jakarta.
Saya sudah ikhlas dan siap terhadap semua kemungkinan terburuk yang akan saya hadapi.
Sebenarnya jika ditanya, rencana dan target saya di perantauan memang belumlah matang-matang banget sih. Goals utama saya adalah yang penting harus menginjakkan kaki di sana terlebih dahulu kemudian sisanya saya serahkan pada Allah. (Catatan: Hal ini hanya dilakukan oleh profesional) Hahahah
Maksudnya gini,
Jika ada di antara Kamu yang memiliki rencana merantau ke kota lain atau daerah yang baru pertama kali untuk di datangi sebaiknya persiapkan modal dan rencana yang matang.
Minimal mental dan kemampuan beradaptasi harus di atas rata-rata karena jika tidak mampu, yang ada malah sengsara dan rasa penyesalan.
Karena modal yang minim segalanya saya atur sedemikian rupa dari mulai transport, uang makan, hingga akomodasi nanti setibanya di Jakarta.
Merantau Dengan Kapal Laut
Saya berangkat dari pelabuhan Bitung Sulawesi utara menggunakan kapal taut dengan estimasi perjalanan lima hingga tujuh hari. Biaya kapal yang saya keluarkan kurang lebih sekitar 500-600 ribuan hanya untuk sampai ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
“Loh kok surabaya bukannya merantau ke jakarta?”
Ya, karena tidak kuat dan mual-mual saat memasuki laut Jawa yang sangat bergelombang, saya memutuskan untuk berganti transport menggunakan perjalanan darat ke Jakarta setibanya di Pelabuhan Surabaya.
Saat berada di kapal laut saya bertemu dengan banyak kenalan dari berbagai latar belakang yang berbeda, ada yang dari Ternate, Ambon, Bau-bau, dan Makassar. Kurang lebih selama 5 hari kami berbagi makanan dan cerita. Bahkan sempat tukar-tukaran nomor WA jika nanti ada salah satu yang mau berlibur ke daerah masing-masing bisa menghubungi mereka, atau sekedar mempererat silaturahim.
Kena Tipu Saat Merantau? Saya Pernah
Karena ini adalah pertama kalinya pengalaman merantau di Jakarta, ada banyak sekali kekurangan dan keterbatasan.
Saya tiba jam dua malam dan memutuskan menginap di salah satu penginapan yang ada di daerah terminal bus Surabaya (saya lupa nama terminalnya).
Saat itu saya berencana untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta pagi harinya. Namun terkendala dengan tiket kereta yang sudah habis sebab pada waktu itu sudah memasuki awal tahun baru dan memang tiket kereta harus dipesan dari jauh-jauh hari.
Saya diberikan tiket bus jam 7 pagi dengan harga 350 ribu , katanya harga lagi naik. Memang waktu itu cukup lama berpikir namun pada akhirnya saya langsung membeli tiket tersebut dari pada tidak sama sekali.
Sayang seribu sayang kami semua yang ada di bus itu akhirnya tidak bisa sampai ke Jakarta, malah turun jam 4 pagi di daerah Cikarang. Sopirnya bilang mereka udah nggak bisa lanjut karena emang cuma sampai Cikarang tujuannya. Hadeuhhh… mana bawaan lumayan banyak lagi. Wkwkwkw
Padahal sesuai kesepakatan saat membeli tiket kami akan diantarkan hingga ke tempat tujuan.
Dari Cikarang saya langsung mengikuti rombongan pendaki yang baru saja pulang dari lombok untuk naik kereta ke Jakarta. Kenalan yang saya temui di bus penipu itu loh, mereka juga kena tipu juga. Kami jalan kaki menuju stasiun kereta karena memang tidak terlalu jauh dari tempat turun bus tadi.
Kurang lebih satu jam perjalanan kereta hingga akhirnya tibalah saya di stasiun kereta Kali Bata pukul enam pagi.
Seminggu di Kontrakan Teman
Selamat datang Jakarta kota metropolitan, walaupun masih banyak yang harus dibenah sebelum kata itu benar-benar di sematkan ke Jakarta.
Sebelum mendapatkan tempat tinggal untuk menetap, saya banyak sekali dibantu oleh beberapa teman. Di antaranya ada bang Alfa yang juga perantau dari Padang namun sudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal. Beilau merupakan kenalan dari teman baik waktu saya kuliah duluh di Manado. Saya diterima dengan baik oleh bang Alfa bahkan dia tidak merasa keberatan jika saya harus stay untuk beberapa lama di kontrakannya.
Oh iya, posisi uang saya waktu itu kurang lebih tinggal dua jutaan karena terpakai untuk beberapa keperluan. Itu belum hitung uang kosan dan transport loh! Tenang saja pasti ada jalan kok, Heheh…
Prinsip saya tentang rezeki pertama adalah di mana pun saya berada, kadar rezeki saya itu udah ada takarannya.
Rezeky Tidak Harus Uang
Rezeki itu nilainya jauh lebih tinggi dari sekedar lembar-lembaran rupiah. Uang itu terbatas sementara rezeki tidak, dia datang dari segala arah yang tidak kita duga.
Jakarta selatan, 04 Januari 2020. Saya numpang di salah satu kontrakan teman yang juga perantauan yang berasal dari suku Padang. Saya dikenalkan oleh sahabat yang sudah kenal baik dengannya. Orang-orang baik yang Allah pertemukan dengan saya.
Sekali lagi semakin banyak kamu menjalin silaturahim dan hubungan baik dengan siapa saja maka semakin banyak juga peluang kamu untuk dibantu oleh banyak orang.
Bukan berarti kamu berteman untuk mencari manfaat, namun bertemanlah dengan jujur dan apa adanya. Kalau ada manfaat yang kamu dapat, itu semua tinggal bonusnya.
Ohh ya, sebelumnya saya ingin cerita tentang perasaan saya yang begitu campur aduk. Ketika rasa takut, sedih, dan senang pun seolah tak bisa lagi saya bedakan. Namanya juga campur aduk. Hehehe
Pada saat perjalanan dari Surabaya – Jakarta, saya mulai dipenuhi dengan berbagai pikiran negatif. Apalagi saat kena tipu naik bus (Baca Part 1)
Banyak pertanyaan dan kekhawatiran berputar-putar dalam kepala saya.
Hal manusiawi yang juga bisa saya rasakan, mengingat ini adalah pengalaman pertama saya dan apalagi minimnya modal yang saya punya menambah ke gundahan.
Tetapi semua itu coba saya tepis dan kembali menyadarkan diri untuk tetap optimis. “Helooooo, kalau kamu down, siapa lagi yang akan menolong kamu. Tuhan pun membantu orang yang mau usaha saja.”
Mungkin inilah yang coba saya katakan pada diri sendiri untuk membangkitkan keyakinan dan keteguhan hati.
Siapa sangkah dan duga setelah tiba di tempat tujuan, saya langsung mendapatkan kabar bahagia dari perusahaan lama saya di Manado untuk bisa bekerja kembali di pusat perusahaan di Jakarta. Yang sebelumnya saya sempat mengajukan resign. (The Power Of Communication)
Walau masih dalam posisi yang sama namun saya sudah sangat bersyukur. “Ini Jakarta loh, kerjaan di sini susah dan banyak yang nganggur, kok saya bisa ya nekat?” Hahahah
Padahal saya pribadi udah nggak terlalu berharap pada perusahaan tersebut. Niatnya emang mau mulai dari nol lagi. Namun lagi-lagi ini rezeki saya dan tidak boleh ditolak.
Cari Kos-kosan Murah, Fasilitas Ok!
Ada yang bilang kalau di Jakarta itu semua serba mahal. Dari mulai tempat tinggal, biaya makan dan lain sebagainya.
Mungkin benar jika datang ke Jakarta itu buat menaikan status sosial kamu, atau sekedar menambah nilai kamu dengan gengsi. Maunya tinggal di Appartement, makan setiap hari di resto atau gofood/grabfood mulu.
Tapi beda hal jika kamu emang tujuannya pengen sukses dan siap bersusah-susah dahulu. Cerdas mengatur keuangan untuk memenuhi keterbatasan dan hemat demi memenuhi segala kebutuhan adalah hal yang harus kamu prioritaskan.
Setelah beberapa hari menumpang akhirnya memutuskan untuk mencari tempat sendiri. Saya beberapa kali mencari kos-kosan diberbagai forum dan aplikasi untuk mendapatkan tempat yang cocok. Survei sana-sini untuk beberapa hari sebelum akhirnya memantapkan diri di sebuah kos-kosan yang terletak di Jakarta Utara, tepatnya di Plumpang, Walang Sari.
Saya pribadi dapat kamar kos dengan harga 800 ribu dan sudah ada kamar mandi dalem, fasilitas kasur dan bantal, lemari dan meja belajar, sama kipas angin ukuran sedang. Lampu sama air melimpah ruah nggak perlu bayar tambahan biaya.
Saya bekerja sebagai educate consultant (Sales produk bimbingan belajar online) di salah satu platform digital berbasis pendidikan di Indonesia. Setiap hari harus berangkat ke lokasi-lokasi yang berbeda.
Karena marketnya siswa sekolahan, maka tempatnya juga sekolah-sekolah yang ada di daerah Jakarta. Saat itu uang yang saya miliki tinggal 600 ribuan kurang, sementara masih ada sebulan sebelum gajian.
Tentu saja kendala transportasi cukup membebankan bagi saya yang tidak terlalu mengenal jelas jalanan Ibu Kota ini. Belum lagi biaya makan sehari-hari. Challenging banget emang di perantauan nih 😎
Itulah pengalaman merantau ke Jakarta yang mungkin tidak seberapa. Walaupun saya belum bisa dibilang berhasil karena pada tahun 2020 kemarin aku pulang dan kembali ke Manado karena pandemi dan Ibu yang sedang sakit parah. Saya masih memiliki keinginan untuk kembali merantau di tahun 2021 ini. Semoga usaha merantau saya yang ke dua kalinya ini akan membuahkan hasil yang lebih maksimal.
6 Komentar
Andi · September 15, 2021 pada 2:59 pm
Wah, bulan ini aku juga mau merantau bang. Semoga ketemu orang baik dan rejekinya dilancarkan.
Mohammadrezalatief · September 19, 2021 pada 3:38 am
Hai, Andi! Semangat yah, kamu pasti bisa bro. Yuk sharing pengalaman rantau bareng aku di dm IG @mohammadrezalatief
Elva · Februari 6, 2022 pada 1:45 am
Bang, aku cewek nih wkwkek th 2022 aku pengen merantau semoga bisa kayak abang setidaknya punya tekad untuk merantau. Dan dipertemukan orang” baik
Mohammadrezalatief · Februari 6, 2022 pada 1:55 am
Hahah, semangat yah Elva. Aku yakin kamu bisa kok. Jangan lupa berdoa dan tetap yakinkan diri kamu yah…
diman · Oktober 18, 2021 pada 10:15 pm
Kok samaan bang, saya.juga kemarin merantau kejakarta tepatnya bulan maret 2020. Ya awal nya sih tujuan utama saya ke bekasi yakni ketempat teman sekelas saya waktu smp dulu… Singkat cerita saya sdh sampe dibekasi sekitar pukul 10 pagi, saya langsung nelpon temen saya untuk dijemput di warung kopi deket alun2 kota bekasi. Lama nunggu jemputan hampir satu jam lebih eeh pas saya telpon balik dia ketiduran bilangnya dan disuruh naik ojol aja dan dikasih alamtnya yakni daerah aren jaya bekasi timur, nah saya bingung duit pegangan saya tinggal 150k. Sementara saya bawak duit dari palembang – bekasi hanya bermodal 650k, perjalanan darat via bus laju prima sebesar 250k (termasuk ongkos kapal feri) dipotong duit jajan sama makan selama perjalanan 100k, masih sisa 300k. Nah selama perjalanan dari pelabuhan merak – terminan kali deres (jakbar) saya tertidur pulas dibelakang sekali. Kernet sama supirnya gak sadar jika tinggal saya seorang dibelakang, singkat cerita bus sdh sampe di terminal kali deres dan menurunkan penumpang yg tujuan kali deres. Dan saya masih tertidur sampe bus puter balik dan stop di tanggerang (saya gak tau posisi stopnya dimana dan nama jalannya, karna waktu itu sekitar jam 3 pagi) saya dibangunin kernetnya dan dia mengaku sedikit terkejut karena masih ada satu penumpang yg belum turun (soalnya saya tidur kek orang mati :v)
Gini percakapan dialog saya dan kernet busnya :
-Kernet : “kamu dari mana dan tujuan stopnya dimana?
Saya : “Dari palembang mang, dan tujuan saya stop di terminal kali deres.”
Kernet : waktu saya teriak2 kali deres, kali deres kok kamu gak turun?
Saya : maaf mang saya ketiduran dan gak denger teriakan mamang.
Kernet : waduh padahal saya teriaknya kenceng banget dan seluruh penumpangnya sdh saya cek dan semua sudah turun dan bus pun dalam keadaan kosong, dan anehnya gak lihat ada kamu dibelakang.
Saya : lah kok bisa gitu? Masa iya gak lihat saya selonjoran tidur dibagian belakang?
Kernet : Ya gak tau, sdh sekarang kamunya turun skrg.
Saya : Sekarang ini stop daerah mana mang?
Kernet : tanggerang, sdh kamu turun saja disini dan naik ojek saja keterminal kali deres.
Saya : jauh gak mang jaraknya?
Kernet : gak jauh, cuman sekitar 30 menit dari sini.
Akhirnya saya pun terpaksa turun dan langsung membuka aplikasi gojek. dan sialnya hp saya baterainya habis karna lupa menchargernya waktu dibus tadi.
Jadi saya terpaksa cari warung makan atau kopi yg masih buka waktu itu hanya untuk berpikir sejenak dan menghilangkan rasa panik, apesnya gak ada warung yg buka dan ditengah kebingungan yg melanda ada bapak2 tukang ojol yg lewat. dan dia langsung berhenti dan menanyakan dari mana dan hendak kemana? Saya bingung dan terdiam sebentar, sempat merasa takut karna saat itu posisi jalanan cukup sepi. tapi saya tepis rasa takut itu, dan memberanikan diri untuk meminta tolong kebapak tersebut untuk diantarkan keterminal kali deres tanpa lewat apk ojek online, bapak itu terlihat bingung dan ragu akhirnya setelah saya jelaskan tentang maksud dan tujuan saya serta hp saya yg baterainya lowbet dia akhirnya bersedia.
Sebenernya bpk tersebut mematok ongkos 50k, tapi setelah tau maksud dan tujuan saya, kota asal saya sama dengan kota kelahiran istrinya dan ditambah dia orang lampung yg merantau ke tanggerang dia bersedia cuman dibayar setengahnya (25k)
Back to cerita awal perjalan saya di bekasi.
Next…
Mohammadrezalatief · Oktober 20, 2021 pada 4:45 am
Hahah, sama yah kita bro. Di part yang minta dijemput teman juga mirip banget, teman saya ketiduran dan akhirnya naik ojol ke tempat dia. Posisi sekarang dimana?