Malam itu saya di minta ayah untuk membelikan mie bakso untuk ibu di salah satu tempat di kampung islam manado. Semenjak selesai operasi penyakit diabetes melitus di kakinya, ibu jadi jarang makan dan meminta membelikan makanan yang ia sukai dibandingkan masakan Rumah.

Saya mengajak adik saya yang paling bungsu untuk menemani sambil ngobrol-ngobrol santai.

Saat perjalanan menuju pulang saya mengatakan padanya bahwa sekarang ini kalau mau kemana-mana harus pakai masker karena nantinya akan ada razia dari kepolisian dan bisa kena denda.

Terus adik saya bertanya, “Apakah gara-gara ada dokter yang meninggal,  Makanya semakin diperketat?

Saya bilang tidak juga, karena saat ini virus korona masih menyebar dan sudah semakin luas. Agar menghindari lebih banyak korban maka aturan yang berkaitan harus dipertegas lagi.

Selanjutnya adik saya berkata lagi “Korona itu nggak ada, ada seorang maulana yang bisa pulang balik india, dan sekarang masih baik-baik saja. Selain itu hanya modal ktp saja dia bisa berpergian!”

Memang akhir-akhir ini si bungsu sering mendengarkan pembicaraan dan cerita-cerita dari kelompok Jamaah Tablig yang berada di kompleks kami. Dia senang memperhatikan dan saya rasa baik jika dia ingin belajar.

Tapi saya tidak mau adik saya menerima mentah-mentah informasi yang dia dapatkan, makanya saya menguji dengan memberikan beberapa pertanyaan.

“Bagaimana bisa maulana pergi ke India tanpa bawa apa-apa dan cuman ktpnya saja?”

Adik saya membalas, “Yang penting yakin!” Katanya.

Wah, saya sedikit geram mendengarnya, nggak bisa kalo gini cara pikir adik saya.

Saya kemudian melontarkan pertanyaan lagi,

Terus maulana berangkatnya naik apa?

Apakah maulana bayar pesawat/kapal pakai Ktp?

Gimana ngurusin passport dan visanya dik?

Sejenak adik saya terdiam dan balik mengatakan bahwa saya nggak tahu apa-apa tentang mereka. Begitulah kalau sudah yakin…

Hmm…

Saya bilang, kalau kamu mau dengar suatu informasi jangan telan mentah-mentah, belajarlah bertanya dan mencari tahu kenapa dan bagaimana bisa terjadi.

Setelah itu saya sempat kaget karena dia menyebut saya sebagai orang yang beraliran Salafi karena memperdebatkannya. Saya tertawa heran, dan menegaskan bahwa tidak semua yang berbeda dengan kamu dan kemudian kamu bisa memberikan spekulasi bahwa dia alirannya lain.

Kamu nggak boleh men-judge seseorang seperti itu, Apalagi jika kamu berpikir lebih baik dari seseorang…

Saya melakukan hal tersebut agar adik saya bisa lebih kritis dan menyaring informasi sebelum benar-benar dia jadikan sebagai pegangan.

Saya ingin dia juga belajar memahami perbedaan pendapat dan tidak langsung memberikan penilaian baik buruknya sesuatu, jika dia sendiri pun nggak punya landasan akan hal itu.

Walaupun dia sedikit tersinggung dan mengalihkan pembicaraan. Saya tetap menjelaskan supaya dia bisa lebih memahami arti dari pembelajaran.

Apalagi dalam beragama, masih banyak yang dia nggak tahu begitupun saya. Tapi setidaknya dia nggak melupakan fungsi akal dalam menimbang supaya tidak tersesat.

Mungkin benar ada banyak orang yang bermodalkan keyakinan dan bisa melakukan banyak hal yang di rasa nggak masuk akal.

Namun dalam proses mendidik, saya harus mengajarkan adik saya untuk tidak meninggalkan logika dan mengesampingkan akal sehat

Karena islam adalah agama yang menjunjung tinggi akal sehat. Islam hadir untuk memberantas kejahilan dan dengan itu semua maka peradaban islam bisa berkembang hingga saat ini.

Spiritualitas dalam agama itu baik, namun jika tidak didorong dengan spirit intelektual dan ilmu pengetahuan, tentu akan sangat bertolak belakang dengan nilai islam itu sendiri.

Kategori: Opini

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *